SELAMAT DATANG...!!!___________DI ECKO CONSELING CENTER____________SMP MUHAMMADIYAH I YOGYAKARTA

6 November 2011

"__Artikel Buletin Warta Guru BTKP EDISI Bulan April - Juli 2011__"

“Mengelola Kecemasan”
-(Menghadapi Ujian Nasional )-


K
ecemasan sering kali menghantui sebagian individu dalam menghadapi situasi yang akan dihadapi. Kecemasan dapat dilihat dari bagaimana ekspresi atau perilaku yang ditunjukkan oleh individu. Kecemasan dapat di artikan sebagai suatu keadaan yang berupa tekanan yang dirasakan oleh individu dalam menghadapi situasi tertentu. Seperti halnya yang di kemukakan oleh Stuart and Sundeens (1998), mengemukakan bahwa kecemasan merupakan suatu keadaan perasaan keprihatinan, rasa gelisah, ketidak tentuan, atau takut dari kenyataan atau persepsi ancaman sumber aktual yang tidak diketahui atau dikenal. Banyak faktor yang dapat menyebabkan kecemasan  timbul didalam diri individu, baik faktor yang ada pada individu itu sendiri dan dari luar individu.
Kecemasan menurut konsep Freud (2002), bahwa kecemasan merupakan hasil dari konflik psikis yang tidak disadari. Kecemasan menjadi tanda terhadap ego untuk mengambil aksi penurunan cemas. Ketika mekanisme diri berhasil, kecemasan menurun dan rasa aman datang lagi. Namun bila konflik terus berkepanjangan, maka kecemasan ada pada tingkat tinggi. Mekanisme pertahanan diri dialami sebagai simptom, seperti phobia, regresi dan tingkah laku ritualistik. Konsep psikodinamik menurut Freud ini juga menerangkan bahwa kecemasan timbul pertama dalam hidup manusia saat lahir dan merasakan lapar yang pertama kali. Saat itu dalam kondisi masih lemah, sehingga belum mampu memberikan respon terhadap kedinginan dan kelaparan, maka lahirlah kecemasan pertama. Kecemasan berikutnya muncul apabila ada suatu keinginan dari Id untuk menuntut pelepasan dari ego, tetapi tidak mendapat restu dari super ego, maka terjadilah konflik dalam ego, antara keinginan Id yang ingin pelepasan dan sangsi dari super ego lahirlah kecemasan yang kedua. Konflik-konflik tersebut ditekan dalam alam bawah sadar, dengan potensi yang tetap tidak terpengaruh oleh waktu, sering tidak realistik dan dibesar-besarkan.
Perilaku yang ditimbulkan oleh setiap individu yang muncul karena memiliki kecemasan berbeda dengan individu yang merasa enjoy dalam menghadapi situasi tertentu. Biasanya individu yang memiliki kecemasan yang ada didalam dirinya akan terlihat bagaimana individu tersebut berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Kecemasan yang berlebihan akan mempengaruhi bagaiamana individu itu melakukan atau mengerjakan tugas pekerjaannya. Cemas itu sangat diperlukan oleh setiap individu didalam menjalani hidup ini, karena dengan adanya kecemasan yang dimiliki maka individu akan berusaha untuk menyelesaikannya. Semua bentuk kecemasan bukan berarti tidak baik atau negatif, namun bagaimana mengatur semua kecemasan yang ada didalam diri  untuk menjadi sebuah kekuatan dan motivasi diri.
Nah sebelum membahas lebih lanjut mari kita ketahui mengenai tingkat kecemasan yang dapat kita lihat didalam diri kita. Menurut Townsend (1996), Ada empat tingkat kecemasan, yaitu (1) ringan, (2) sedang, (3) berat dan (4) panik. Kecemasan ringan; Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. Kecemasan ringan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah kelelahan, iritabel, lapang persepsi meningkat, kesadaran tinggi, mampu untuk belajar, motivasi meningkat dan tingkah laku sesuai situasi. Kecemasan sedang;  Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada masalah yang penting dan mengesampingkan yang lain sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif, namun dapat melakukan sesuatu yang terarah. Manifestasi yang terjadi pada tingkat ini yaitu kelelahan meningkat, kecepatan denyut jantung dan pernapasan meningkat, ketegangan otot meningkat, bicara cepat dengan volume tinggi, lahan persepsi menyempit, mampu untuk belajar namun tidak optimal, kemampuan konsentrasi menurun, perhatian selektif dan terfokus pada rangsangan yang tidak menambah ansietas, mudah tersinggung, tidak sabar,mudah lupa, marah dan menangis.
Kecemasan berat;  Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang dengan kecemasan berat cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik, serta tidak dapat berpikir tentang hal lain. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area yang lain. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah mengeluh pusing, sakit kepala, nausea, tidak dapat tidur (insomnia), sering kencing, diare, palpitasi, lahan persepsi menyempit, tidak mau belajar secara efektif, berfokus pada dirinya sendiri dan keinginan untuk menghilangkan kecemasan tinggi, perasaan tidak berdaya, bingung, disorientasi.
Panik;  Panik berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan teror karena mengalami kehilangan kendali. Orang yang sedang panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Tanda dan gejala yang terjadi pada keadaan ini adalah susah bernapas, dilatasi pupil, palpitasi, pucat, diaphoresis, pembicaraan inkoheren, tidak dapat berespon terhadap perintah yang sederhana, berteriak, menjerit, mengalami halusinasi dan delusi.
Dari tingkatan kecemasan yang dikemukakan oleh Freud tersebut kita dapat mencocokkan dimanakah diri kita yang memiliki kecemasan. Apakah kita berapa pada tingkat ringan, sedang, berat atau pada tingkatan panik. Bentuk kecemasan yang ada pada diri kita adalah diri kita masing-masing tinggal bagaimana selanjutnya untuk action atas kecemasan yang kita miliki.
Ujian Nasional atau sering disingkat UN merupakan program rutin yang dilaksanakan di setiap tahun untuk menentukan apakah peserta didik lulus atau tidak lulus. Kebijakan UN selalu membawa pro dan kontra di masyarakat. Disetiap UN akan dilangsungkan pasti ada komentar disana sini, mulai dari manfaat, proses pelaksanaannya dan lain sebagainya. UN tidak terlepas dari sosok peserta didik (siswa), guru dan orangtua untuk menentukan keberhasilan dalam menghadapi UN. Berbagai macam hal yang harus dipersiapkan oleh peserta didik, guru dan orangtua dalam menghantarkan anak didik menuju keberhasilan dalam mengikuti UN. Persiapan tidak mesti berupa kesiapan materi namun juga kesiapan mental peserta didik itu sendiri yang terkadang masih diabaikan. Mental yang kuat akan berdampak bagaimana individu itu menghadapi tantangan yang ada dihadapannya.
“Kecemasan” ya, kecemasan satu kata yang mungkin dirasa sederhana namun memiliki arti yang begitu sangat besar terhadap mental health. Dikatakan memiliki arti besar karena kecemasan dapat membuat individu berperilaku yang negatif juga berperilaku positif. Artinya bahwa kecemasan itu dapat membawa individu kedalam situasi yang menyenangkan dan juga dapat membawa individu ke dalam situasi yang tidak menyenangkan. Ujian Nasional sering kali dikaitkan dengan bagaiamana keadaan mental peserta didik untuk mengikuti UN. Bukan hanya peserta didik yang merasakan kecemasan dalam menghadapi UN, namun sebagian guru dan sebagian orangtua juga merasakan hal yang sama. Kecemasan tersebut muncul karena akibat dari ketidakmampuan seseorang didalam megelola kecemasan itu sendiri. Peserta didik merasa cemas karena takut merasa tidak bisa mengerjakan soal di saat soal sudah didepan mata. Guru merasa cemas karena kawatir anak didiknya ada yang tidak lulus sehingga berbagai cara dilakukan untuk membantu anak didiknya untuk menghadapi UN dengan tujuan agar lulus. Begitu juga orangtua merasa cemas karena kurang yakin akan kemampuan anaknya, karena orangtua sudah mengetahui kemampuan anak dalam pelajaran yang di UN-kan.
Ujian Nasional pada tahun 2011 ini format kelulusan berbeda dengan sebelumnya, dimana pada tahun ini kelulusan tidak hanya ditentukan oleh hasil UN, namun juga di gabungkan dari beberapa bidang studi (mata pelajaran) yang sudah menjadi ketentuan. Sedangkan pada tahun sebelumnya kelulusan hanya di tentukan oleh hasil akhir dari Ujian Nasional yang di ikuti. Kreteria kelulusan yang seperti itu secara tidak langsung mempengaruhi psikologis dan merdampak pada persiapan yang dilakukan oleh semua sekolah. Bukan hanya itu saja kecemasan yang tadinya dirasakan oleh peserta didik, guru dan orangtua sangat tinggi, ini menjadi kemungkinan akan turun kecemasan yang dirasakan.  Namun lepas dari pada itu semua hasil Ujian Nasional yang akan di selenggarakan juga sangat menentukan lulus tidaknya peserta didik.

Kecemasan dan UN merupakan dua kata dimana bila di pahami secara bersama akan memiliki arti yang lain dan seyogyanya dapat dipahami oleh guru, orangtu dan peserta didik. Dipahami dalam arti bagaimana dan apa yang seharusnya dipersiapkan. Mengatur atau dapat disebut juga mengelola adalah hal yang sepatutnya dilakukan baik oleh peserta didik, guru dan orangtua. Mengelola dalam hal ini adalah bagaimana cara mengelola kecemasan yang dirasakan ke dalam sesuatu yang positif dan juga dapat dijadikan sebagai motivasi diri. Ada tiga hal yang menurut penulis dapat dilakukan oleh seseorang untuk dapat mengelola kecemasan yang hadir pada diri, yaitu : (1)Yakin, (2) Action (berbuat), (3) Mendekatkan diri kepada Tuhan (Allah SWT). Mari bersama sama kita bahas satu persatu tiga hal yang dapat dilakukan, baik oleh peserta didik, guru dan juga orangtua.
(1) Yakin; setiap apa yang dilakukan baik itu sesuatu hal yang kecil atau besar harus diyakini bahwa akan menghasilkan sesuatu yang positif. Artinya kita harus memiliki keyakinan yang baik terhadap apa yang kita akan dan sedang dilakukan. Bukan berarti sebaliknya kita tidak memiliki keyakinan terhadap apa yang kita lakukan. Seberapapun besar kecilnya yang kita lakukan itu merupakan hasil dari jerih payah kita untuk mewujudkan sesuatu. Karena dengan keyakinan itu pikiran kita akan terbawa oleh sesuatu yang positif, karena sesuatu yang positif itu berawal dari pikiran dan kemudian berdampak pada kesehatan mental. Karena sehat itu berawal dari pikiran, seperti kisah seorang Barbara Horbeman Levine  yang memiliki penyakit tumor otak dan kemudian mengelola mindset (pola pikir)-nya dalam menjalani hidup, hingga pada akhirnya sembuh dari penyakitnya. Kisah Barbara ini ditulis dalam bukunya-Sehat Berawal dari Pikiran-(2006).      (2) Action (berbuat); berbuat tidak harus menunggu akan tetapi mulailah dari diri kita untuk action dalam segala hal baik pekerjaan atau kewajiban. Kadang kala ada orang yang hanya pintar membuat planning (rencana) namun tidak dibarengi oleh tindakan yang nyata di lapangan sehingga apa yang menjadi rencana tidak akan tercapai. Jadi bila kita memiliki tujuan dan keinginan yang baik tentunya perlu untuk dilakukan bukan hanya direncanakan, di renungi atau dipandang sebagai hal yang tidak nyata. (3) Mendekatkan diri kepada Allah; Allah itu maha tahu segalanya, maha tahu apa yang menjadi kebutuhan hambanya dan juga keinginan, namun terkadang manusia hanya menginginkan sesuatu dari Tuhannya (Allah SWT) tetapi tidak memperdulikan apa yang menjadi kewajibannya sebagai hamba Tuhan (Allah SWT). Maka, dekatkan diri kita kepada-Nya agar yang menjadi permasalahan atau kecemasan yang ada pada diri kita dapat terkelola dengan baik atau bahkan hilang sama sekali.
Dari tiga hal yang telah dikemukakan diatas dan dengan penjelasan yang ada memungkinkan kita untuk mengelola kecemasan yang ada pada diri kita. Tentunya dalam menghadapai Ujian Nasional yang sebentar lagi pada bulan April akan diselenggarkan. Namun masih banyak lagi referensi atau sumber yang dapat kita lakukan agar kecemasan yang ada pada diri kita hilang atau dapat dikelola dengan baik khususnya dalam menghadapi Ujian Nasional. Mudah-mudahan yang sedikit ini dapat memberi manfaat dan membantu kita untuk memahami dan mengelola kecemasan yang ada pada diri kita dengan baik. 
PUSTAKA

Barbara Herberman Levine. 2006. Sehat Berawal dari Pikiran. Jakarta: Buana Ilmu Populer
Freud Sigmund. 2002. Psikoanalisis, (penerjemah: Ira Puspitarini). Yogyakarta: Ikon
Stuart & Sundeen. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 3. Jakarta : EGC
Townsend, M.C. 1996. Psyciatric Mental health Nursing Conceps of care. Philadelphia: Davis Company

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar